Coffie Hollic
Secangkir kopi panas bagi aku dan dia adalah uapan beraoma
khas yang mampu menyatukan kami di kala padatnya aktifitas masing-masing. Sore
itu, ditemani gerimis, aku dan sang suami duduk di teras, meresapi cuaca yang
romantis , sambil menghirup dan menyeruput kopi hitam yang panas ini..
“hmmm…nikmatnya, apalagi
secangkir kopi ini diminum berdua bersama suami. Mmmm..sensasinya itu
lho..”.
Kopi bagi kami berdua adalah sejarah penuh cinta yang
mempertemukan kami hingga sekarang bisa menjadi suami-istri. Kala itu di sebuah
rumah kopi, seorang pria bertubuh kurus memakai kacamata sedang terburu-burunya
berjalan dan dengan tak sengaja menumpahkan kopi panasnya di bajuku.
“aww..uff..aku meniup-niup bajuku yang kena tumpahan kopi
tadi..panasss…”
“maaf..maaf banget yah mba, saya gak sengaja numpahin kopi
itu” kata pria itu sambil berusaha membersihkan tumpahan kopi di bajuku. ”
sekali lagi maaf mba, aku sedang terburu-buru karena ada pasien gawat darurat
yang harus aku rawat. Ini kartu nama saya, saya akan ganti rugi semua ini
termasuk mengobati luka siraman kopi di bahu mba ini”.
“ah..eh,i..iya. gapapa kok. Gak ada luka serius juga”.
Kataku
“ oya, saya Rico”. Kata pria itu memperkenalkan dirinya”.
“Kaira”. Jawabku. “Oh iya, ini kartu nama saya, sapa tau
butuh media untuk menginformasikan kegiatan medis anda. Hehehe…
“ okeh, makasih. Wah, mba Kaira ini seorang reporter
yah”..okeh deh, kapan-kapan kita ketemu lagi yah, maaf saya sedang buru-buru ke
rumas sakit. Permisi mba..”
********
Dua minggu setelah insiden tumpahan kopi itu, aku dan Rico
bertemu lagi di rumah kopi. Setelah cerita panjang lebar ternyata kami banyak
kesamaannya, termasuk kesamaan mencintai minuman beraoma khas ini. Meski
seorang dokter, Rico mengaku tak bias lepas dari kopi, padahal ia tau efek
samping kalau kebanyakan minum kopi bisa menyebabkan pengeroposan tulang.
“ Ya maklumlah, namanya juga coffie hollic, susah
hilangnya..apalagi ini udah jadi kebiasaan saya sejak SMA” aku Rico. “ Kalau kamu key, sejak kapan suka kopi? Jadi teman begadang
buat nyusun berita ya? “.
“ bisa dibilang, tapi
aku juga suka kopi sejak lama..dari jaman jadi anak kos waktu kuliah dulu,
gara-gara warung di sebelah kos aku jualan kopi yang rasanya eenakk banget, aku
ketagihan deh.hehehe..”.
Keseringan ngopi bareng, aku dan rico menjadi semakin dekat.
Suatu waktu ia mengatakan bahwa ia tak bisa kehilangan kopi sama halnya ia tak
bisa kehilangan diriku. 3 tahun pacaran membuat kami semakin mantap untuk
menikah. Sampailah saat ini, kami sepasang suami istri coffie hollic yang
selalu memanfaatkan waktu luang kami dengan secangkir kopi.

3 komentar:
cerita yang bagus, tp sayang kopi habis, beliin gih..(sabda sang suami)
duidnya mana?
Posting Komentar